Artikel terbaru tentang tutorial bisnis online

Get paid To Promote at any Location

Soe Hok Gie

Cerita ini saya kutip dari http://catros.wordpress.com tentang kisah seorang Soe hok Gie yang terkenal tentang idealismenya dikala politik bergejolak. semoga artikel ini bisa menambah wawasan kita khususnya pemuda indonesia dalam dalam memperingati hari sumpah pemuda.

Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak Gunung Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.

“Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan,” kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.

Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. “Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu,” lanjutnya.

Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. “Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru … perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu,” begitu bunyi naskah buku kecil acara “Mengenang Seorang Demonstran”, (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.

Kasih Batu dan Cemara
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di Gunung Semeru.

Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya Gunung Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.

Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.

Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan‘ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Soe dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.

“Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil Gunung Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.

Mengapa Naik Gunung
Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.

Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. “Pokoknya gue akan berulang tahun di atas,” katanya sambil mesam-mesem. “Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali.”

Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. “Keren enggak?” Tanyanya.

Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki Gunung Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.

Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.

Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan “falsafahnya”, kala mengajak seseorang mendaki gunung. “Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini,” kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.

Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.

Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.

Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan … Tides dan Wiwik 18-12-69.

Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan “site” tempat jenazah Soe dan Idhan … kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat … sebanyak mungkin!

Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing. Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Monyet Tua Yang Dikurung
Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: “… Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ….”

Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan “Cina Kecil”, memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata “sakti” filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang … makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: “Ah, Mama tidak mengerti”.

Arief pun menulis kenangannya lagi: … di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik … dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan … saya terbangun dari lamunan … saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, “Gie kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.

Mimpi seorang Mahasiswa Tua
John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.

Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus:
…Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih … kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.

Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut:
… Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan …. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan … bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.

Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis,
… Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!

Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini:
Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh - dan pemuda, bangkit dan berkata - stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-Mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan:
… Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.

Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.

Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis:
… Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.

Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki “politisi berkartu mahasiswa”. Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.

Berpolitik Cuma Sementara
John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini,
“Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”

Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun … namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental “asal bapak senang”, serta “yes men”, atau sudah pasrah.

Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa.”
Demikian tulis Maxwell.

Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.

Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folk song (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.

Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya “Pesan” dan cukilan pentingnya berbunyi:

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi.

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?


Sumber : http://catros.wordpress.com

Read More......

Kukuku

Ha..ha.. bingung kehabisan ide buat posting dan juga sibuk nyari-nyari artikel buat bahan belajar. Eh iseng-iseng lihat koleksi foto-foto dalam komputer saya nemuin ide buat cerita tentang kukuku, ah basi banget kayaknya, tapi tidak apalah, itung-itung belajar mengarang he..he..

Kuku saya ini saya biarkan saja panjang semenjak lulus sekolah (kenapa ya?), mungkin balas dendam gara-gara waktu sekolah dulu kena razia mulu ma pak guru, panjang sedikit kepotong dech hiks..

Hampir 2 tahun sudah kuku saya biarkan tanpa saya potong hanya bagian jempol kiri saja (kalau semuanya bakal ga' bisa ngapa-ngapain he..he..). Banyak teman-teman yang tanya pada saya kok bisa ya?, ya saya jawab enteng saja "ya bisa ajalah", yang penting biarin aja tidah usah dipotong ujar saya.

Pernah juga kata teman-teman saya tidak pernah nyuci baju sendiri, tapi nyatanya saya seumur hidup tidak pernah loundry tuch, tapi kalau dicuciin ibu' sich pernah he..he.., juga ada yang tanya, "apa tidak ganggu aktivitas?", ya selama ini saya merasa biasa saja tuch aktivitasnya, apapun itu. Pernah juga waktu itu saya disuruh bapak kesawah (maklum saya anak petani) untuk bantu panen kedelai, ya saya juga biasa saja, tidak terlalu ribet, bahkan bantu angkat-angkat kemobil juga.

Sampai saat ini saya ukur kuku saya panjangnya mencapai 3 setengah centimeter, dan itupun kemarin pernah patah gara-gara sobek. kita lihat saja nanti, sampai kapan bertahan lagi he..he..

Saya lama tidak posting juga karena membantu membenahi blog saka wanabakti ponorogo dan coba belajar ngeblog dengan mesin lain, yaitu wordpress. blog saya yang bermesin wordpress dapat sobat tengok di http://arifudin.worpress.com. Saya mencoba dengan topik khusus, yaitu pramuka, yah... pramuka... kenapa pramuka?,emm... ya because i love scout. ha..???????? duuuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr!!...... siut-siut (eh salah suit-sui...t).

Read More......

Semangat ngeblogku

Setelah lamanya 3 bulan liburan, kini saatnya kembali kebangku belajar, melanjutkan pelajaran-pelajaran yang harus saya tempuh. Begitu pula dengan semangat ngeblogku yang awalnya malas-malasan, kini dikit demi sedikit akan saya rubah menjadi kebiasaan ngeblog yang baik, pada awalnya saya ngeblog hanya untuk inisiatif mencari uang setelah saya baca-baca artikel tentang google adsense dan keluarganya (referal, afiliasi).

Tapi ternyata tidak mudah juga untuk menjadi blogger yang profsional, harus tahu tentang SEO, pagerank dan keluarganya juga he..he.. lalu saya pikir itu nanti dulu lah, sambil jalan, intinya sekarang saya lebih menambah kualitas posting saya, baik dari segi penulisan,cara penyampaian, gaya bahasa, dan lainnya.

Secara tidak langsung, saya juga termotivasi oleh komentar-komentar sobat semua. Karena dengan komentar sobat semua, pengetahuan saya juga ikut bertambah sekaligus sharing opini dll. Dengan bergabungnya saya juga di komonitas blogger warok, maka semakin mudah juga untuk saling sharing tentang dunia per-blogan. terima kasih saya ucapkan kepada seluruh sobat semua yang sudah menyempatkan mampir di blog saya, diantaranya adalah maz gajah pesing yang selalu menggoda ku dikala chating, Pak Edy PSW dari bungkal, Pak Andy MSE tiyang solo, Maz septian dengan koment-komentnya yang asyik, Mbak Rosy yang ganjen tapi imut cie...., maz galihyonk yang ada disurabaya, Pak noersam yang selalu bikin aku ketawa, maz dafhy ade' kelasku, jovie and joe spider, dan semuanya yang belum sempat saya sebutkan satu-satu.

InsyAlloh mulai saat ini, semua komentar yang masuk akan saya tanggapi, walau tidak pada saat itu juga, ataupun saya menyambangi rumah (blog) sobat sekalian untuk saling bersilaturahmi.

Keep spirit.......
Go...go.... Indonesia blogger!

Read More......

Bug VS rutin bunuh diri


Apakah anda termasuk orang yang menggemari cerita detektif, kriminal, atau misteri? kalau ya, anda pasti penasaran dengan topik ini (saya juga penasaran banget he..). Karena "Bom" versi informatika dapat digunakan untuk merugikan orang termasuk menfitnah.

Bug (error) pada suatu program direkayasa supaya kelihatan error, untuk pemerasan. atau bug direkayasa untuk menfitnah orang, menghancurkan data perusahaan, mencuri infoormasi rahasia perusahaan, menempelkan trojan-horse, dan lain sebagainya. Intinya, program "membunuh" dirinya sendiri.

Rutin bunuh diri merupakan suatu prosedur / rutin yang digunakan untuk menghapus, merusak, atau mengacau kinerja suatu program. Rutin ini secara sengaja ditaruh dalam diri suatu program aplikasi dan dimaksudkan untuk merusak kinerja program itu sendiri.

Biasanya rutin akan diaktivkan secara otomatis setelah beberapa saat tertentu atau setelah dipicu suatu keadaan tertentu. Jadi jelas bahwa sifatnya menyerupai sifat "bom waktu", meledak karena dipicu oleh waktu atau karena pemicu lainnya. Rutin ini biasanya disembunyikan dengan oleh programer-nya sehingga seolah-olah tidak ada.

Kenapa bisa ada rutin macam ini? biasanya ini disebabkan oleh ketidakpuasan programer pada gaji yang diterimanya. Atau bisa saja karena dendam pada bos yang sering membentak-bentak dan mengancam memecatnya. "Oke saya keluar, tapi jangan harap perusahaan ini berjalan dengan baik tanpa saya", pikirnya dalam hati.

Kenapa bisa ada rutin macam ini? biasanya ini disebabkan oleh ketidakpuasan programer pada gaji yang diterimanya. Atau bisa saja karena dendam pada bos yang sering membentak-bentak dan mengancam memecatnya. "Oke saya keluar, tapi jangan harap perusahaan ini berjalan dengan baik tanpa saya", pikirnya dalam hati.

Contoh sederhananya, sibandel adalah seorang programer di perusahaan pelit. Selama bekerja bertahun-tahun, perusahaan memperlakukan seenaknya. gaji kecil sekali, dibentak-bentak seenaknya, bahkan disuruh lembur tanpa upah. Yang kontras, gaji dan perlakuan yang diterimanya beda sekali dengan manajer yang menjadi bosnya. Padahal pekerjaanya jauh lebih berat karena dia menangani hidup matinya perusahaan lewat data dan informasi pada programnya. Intinya, perlakuan perusahaan padanya sama sekali tidak menghargainya.

Akhirnya dia tidak tahan. Dia memutuskan untuk keluar dari perusahaan. Namun sebelumnya dia berimisiatif untuk memasang rutin bunuh diri di programnya. Rutin di setting agar meledak setelah 25 ribu kali pemakaian, atau meledak pada tanggal 12 februari 2009, tepat pada tanggal lahirnya. Apa yang terjadi ketika rutin meledak? apa saja bisa terjadi disini, menghapus data, memodifikasi data, memasang trojan-horse, mencuri data, atau apa saja. Yang jelas, perusahaan pelit pasti akan rugi besar.

Contoh diatas menunjukkan contoh dampak rutin bunuh diri. Rutin ini bisa saja menjadi lebih mengerikan dari pada virus, karena pelaku kekacauan tersembunyi dalam suatu "program baik-baik" sehingga tidak akan dicurigai. Selain itu, berkaitan dengan sifatnya yang hanya "meledak" sekali-sekali sehingga sulit dilacak. yang lebih jahat lagi, rutin bunuh diri bisa digunakan untuk menfitnah orang. (weleh-weleh).


Referensi : buku "The art of debuging"

Read More......

Aspek historis kesenian reyog Ponorogo


Kesenian reyog Ponorogo sebagai kesenia tradisional, penuh dengan nilai-nilai historis dan legendaris yang tumbuh dan berkembang sejak dahulu hingga sekarang bukan saja menjadi kebanggan daerah melainkan menjadi kebanggaan nasional. Penyajian dan penampilan kesenian reyog Ponorogo dengan figur yang penuh batiniah dilapisi magis yang fulgar merupakan merupakan perpaduan antara lahiriah dan batiniah secara serasi dan seimbang tetap hidup dan berkembang dikalangan masyarakat Ponorogo.

Asal usul reyog Ponorogo yang semula disebut "barongan" sebagai satire (sindiran) dari ki Ageng Kutu Suryongalam terhadap raja Majapahit Prabu Brawijaya V (Bhre kertabumi). Terwujudnya barongan merupakan sindiran bagi raja yang sedang berkuasa yang belum melaksanakan tugas-tugas kerajaan secara tertib, adil dan memadai, sebab kekuasaan raja raja dikuasai/dipengaruhi bahkan dikendalikan oleh permaisurinya. Budaya rikuh pakewuh sangat kuat di benak masyarakat untuk mengingatkan atasannya. Oleh karena itu metode sindiran (satire) merupakan salah satu cara untuk mengingatkan atasanya secara halus.

Pola pendekatan dengan bahasa seni adalah merupakan media efektif dan efesien yang hasilnya akan berdampak positif penuh pengertian yang mendalam.



Ki Ageng Suryongalam menyadari bahwa sebagai bawahan tidak dapat berbuat banyak. Maka alternatif lain yang ditempuh terpaksa memperkuat dirinya dengan pasukan perang yang terlatih berikut para waroknya dengan berbagai ilmu kanuragan.

Berawal dari cerita inilah asal-usul reyog Ponorogo dalam wujud seperangkat merak dan jatilan sebagai manifestasi sindiran kepada Raja Majapahit yang dalam menjalankan roda pemerintahan dipengaruhi oleh permaisurinya. Raja dikiaskan sebagai harimau yang ditunggangi oleh merak sebagai lambang permaisurinya.

Pada masa kekuasaan Batori katong oleh Ki Ageng Mirah (pendamping setia Batoro katong) dipandang perlu tetap melestarikan barongan tersebut sebagai alat pemersatu dan pengumpul masa yang efektif sekaligus sebagai media informasi dan komunikasi langsung dengan masyarakat.

Dengan daya cipta dan rekayasa yang tepat Ki Ageng Mirah membuat cerita legendaris, yaitu terciptanya kerajaan Bantarangin dengan rajanya Klana Sewandana yang sedang kasmaran. Hasil daya cipta Ki Ageng Mirah ini berkembang dimasyarakat Ponorogo bahkan diyakini bahwa cerita itu adalah benar-benar terjadi.

Keberhasilan Batoro katong dalam mengamankan wilayah Kerajaan Majapahit khususnya wilayah kadipaten Ponorogo dan berhasil pula menyiarkan agama Islam secara damai, maka dalam dadak merak ditambah suatu tetengger dengan seuntai merjan (tasbih) diujung paruh burung merak, sedangkan lambang ular yang sudah ada tetap utuh terpelihara. Perkembangan reyog yang semakin digemari oleh masyarakat bagian wilayah kerajaan Majapahit khususnya di Ponorogo tumbuh dan berkembang dimana-mana lengkap dengan warok dan gemblaknya.

Surutnya reyog Ponorogo dalam pentas seni terasa pada masa pendudukan Belanda dan Jepang. Hal ini dipahami karena seringnya berkumpul akan mengundang kecurigaan pemerintahan penjajahah dan akhirnya dilarang sama sekali.

Kemunculannya kembali setelah Indonesia merdeka 17 agustus 1945. namun sangat disayangkan karena dijadikan alat bagi organisasi politik pada masa itu. Akhirnya muncullah beberapa perkumpulan reyog Ponorogo seperti : BREN (barisan reyog nasional), CAKRA (cabang kesenian reyog agama), BRP (barisan reyog ponorogo), KRIS (kesenian reyog islam)dan sebagainya.Untuk membendung reyog PKI pada saat itu muncullah gajah-gajahan dan unta-untaan yang kesemuanya itu terjadi masa puncak kejayaan nasakom dimana PKI mendominasi seni ini dengan barisan reyog ponorogonya. Setelah PKI dilarang dan dibubarkan baru kesenian reyog Ponorogo mulai dibina secara utuh dan terarah serta terencana dengan baik oleh pemerintahan orde baru. Hanya saja belum satu wawasan dalam menentukan alur cerita asal-usul reyog Ponorogo.

Artikel ini saya ambil dari buku "Pedoman dasar kesenian reyog Ponorogo dalam pentas budaya bangsa", 1993.

Semoga bisa menambah wacana kita tentang kesenian Reyog Ponorogo.

Read More......

setting nokia 3500c sebagai modem


Tuturial ini saya ambil dari sini dan kebetulan HP saya juga bertipe sama, mudah-mudahan bisa berguna buat temen-temen


Oke kalo gitu kita langsung aja. Dalam melakukan settingan ini yang perlu anda siapkan :

  1. Kartu yang telah aktif GPRS serta daerah masuk Layanan GPRS . Yang paling utama Kartu anda memiliki Pulsa Minimal Rp. 5000,-
  2. HP Nokia 3500c beserta Kabel datanya
  3. Yang jelas se unit Komputer ato laptop dengan OS Windows
  4. Sotware NOKIA PC SUITE Compatible Nokia 3500c (silahkan browsing digoogle)
  5. Camilan + kopi

catatan : Nokia PC Suite sangat di perlukan karena Nokia 3500c gak memiliki Driver, jadi coba aja pake Nokia PC suite karena telah terintegrasi driver yg dapat di dukung oleh Nokia 3500c

Langkah pertama :

  1. Setelah anda download Nokia PC Suite, Extract dan Install. Ikuti aja petunjuknya hingga selesai.
  2. sekedar Info PC Suite Installer akan mengextract file sebesar kurang lebih 170 mb, jadi sisain ruang hardisk lebih dari itu.
  3. Pada bagian terakhir proses installnya, anda di minta untuk memasang HP anda. jadi anda colok aja Nokia 3500c anda dgn memakai kabel datanya.
  4. Setelah itu program akan deteksi HP Nokia anda, apakah cocok untuk versi Nokia PC Suitenya. Jika berhasil kita kelangkah kedua
  5. Pada HP Nokia 3500c anda pilih Modus Nokia sebagai media penyaluran Datanya.




Langkah Kedua :

Pada tahap ini sy coba gak memakai koneksi internet yang di sediakan oleh fitur Nokia PC Suite, tapi kita coba melakukan setting internet secara manual.

  1. Masuk ke Control Panel
  2. Klik Phone and Modem Option > Pada kotak dialog Location Information Pilih indonesia dan ketik 62 untuk kode akses negara lalu Ok
  3. Pada Kotak Dialog Phone and Modem Option klik tab Modem, maka pada list modem akan terlihat Nokia 3500 classic USB Modem dng COM4 berarti COM Port yang di gunakan pada komputer adalah COM4 (untuk PC saya). Jika pd list Modem gak menampilkan list modem Nokia 3500, berarti Nokia PC suite Gagal anda Install.
  4. Pilih Nokia 3500 classic USB Modem pada list lalu klik Properties, tampil dialog Nokia 3500 classic USB modem properties. Klik tab modem dan ubah 115200 pada Maximum Port Speed.
  5. Masih pada dialog Nokia 3500 classic USB modem properties, klik lagi tab Advanced terus ganti Extra settingnya sebagai berikut :
  • Telkomsel = at+cgdcont=1,ip,”telkomsel”
  • Telkom Flash = at+cgdcont=1,ip,”flash”
  • ProXL = at+cgdcont=1,ip,”www.xlgprs.net”
  • M3 = at+cgdcont=1,ip,”www.indosat-m3.net”
  • Mentari = at+cgdcont=1,ip,”satelindogprs.com”
  • Three = at+cgdcont=1,ip,”3gprs”
Anda bisa mencoba ngetest apakah modem sudah bisa melakukan koneksi dengan klik tab Diagnotics lalu klik Query Modem, Maka akan menampilkan pesan apakah berhasil ato gak.











Langka Ketiga :

Buat Sebuah Koneksi (yang sering melakukan koneksi dengan telkomnet instan pasti bisa dech) dengan cara :

  1. Masuk ke Control Panel
  2. Klik Network Connection , pada jendela network connection tampil Nokia 3500 classic USB Modem (OTA). Ini adalah konfigurasi yang di buat sendiri oleh Nokia PC Suite. anda bisa menggunakan koneksi itu, tapi kita akan coba buat koneksi baru dngan klik Create New Connection
  3. Tampil Kotak Dialog New Connection Wizard Klik next
  4. Pilih Connect to the internet lalu next Kemudian Pilih Set up my connection manually lalu next
  5. Connect using a dial-up modem lalu next
  6. Ketik nama ISP terserah anda, hanya untuk nama koneksi lalu next
  7. Untuk selanjutnya anda ketik Phone Number lalu Passwordnya. Untuk masing operator sebagai berikut :

  • TELKOMSEL
    User : wap
    Password : wap123
    Dial : *99***1#
  • TELKOM FLASH
    User : [KOSONGKAN]
    Password : [KOSONGKAN]
    Dial : *99***1#
  • MATRIX
    User : [kosongkan]
    Password : [kosongkan]
    Dial : *99***1#
  • MENTARI
    User : indosat
    Password : indosat
    Dial : *99***1#
  • IM3
    User : gprs
    Password : im3
    Dial : *99***1#
  • IM3 (DURASI) Rp 100,-/menit
    User : indosat@durasi
    Password : indosat@durasi
    Dial : *99***1#
  • XL
    User : xlgprs
    Password : proxl
    Dial : *99***1#
Lalu Finish, Maka jendela Dial Connettion siap anda jalankan, serta pada jendela network connettion akan bertambah 1 jenis koneksi yang telah anda buat.


















Langkah Keempat :

untuk lebih mengoptimalkan koneksi anda : Buka Run > ketik gpedit.msc (untuk XP Sp2 Propesional) lalu enter/oke. ada bagian Administrative Templates, pilih Network trus QoS Packet Scheduler, pada bagian kanan QoS packet scheduler, dapat di pilih Limit Reservable Bandwidth trus klik enable. pada bagian bandwidth limit isikan 0%.

Pengalaman saya : saya sudah mencoba, ya bisa tapi pulsanya juga habis banyak juga he..he.. (saya pakai im3)
Read More......

Anugrah terindah

Melihat tawa mu
Mendengar senandung mu
Terlihat jelas di mata ku
Warna - warna indah mu

Menatap langkah mu
Meratapi kisah hidup mu
Terlukis jelas bahwa hati mu
Anugerah terindah yang pernah ku miliki

Sifat mu nan selalu
Redakan ambisi ku
Tepikan khilaf ku
Dari bunga yang layu

Saat kau di sisi ku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah ku miliki

Sheila on 7






Read More......